Friday, January 27, 2006

(Jangan) Kasih Ampun Paru-paru

Ada suatu kisah...

Sebut saja tokoh tersebut si Zeru.. lho koq.. ganti deh jangan si Zeru, sebut saja si Ucok .. hmmm..

....masa lalu....

Ketika kelas 2 SMA si Ucok dan teman-teman sekelasnya ngadu bola kaki sama kelas lain (dari sekolah yang sama). Selain prestise :) dan sarat dengan emosi (maklum darah muda), pertandingan bola tersebut juga pake taruhan. Pada saat pertandingan babak pertama tim bola kelas si Ucok ketinggalan 2-0, pada saat istirahat temen-temen sepertinya pada bete, salah seorang temen mencoba menenangkan tim dengan berkata, "Jangan kasih ampun paru-paru". waw motivasi yang mantab sekali, pikirku.
Babak kedua selesai dan skor akhir pertandingan tim kelas si Ucok di bantai 5-0


Ternyata perkataan
temennya si Ucok itu pada saat istirahat bukan bermaksud untuk motivasi supaya bertarung habis-habisan di babak kedua, tetapi supaya jangan terlalu stress mikirin taruhan dan sebaiknya ngerokok aja, karena temen-temennya si Ucok pada sedeng-sedeng dan si Ucoknya sendiri juga sedeng :) .. eh bukannya ngeramu taktik jitu buat ngejar ketinggalan, malah ketawa-ketiwi sambil ngerokok.

....sekarang....

Suatu ketika si Ucok sedang pulang ke tempat tinggalnya (sebut saja tempat tinggalnya di Terab). Dalam perjalanan pulang sekitar pukul 10.00 WIB ke Terab cuaca mendung di selingi dengan gerimis, dengan adanya gerimis tersebut spontan jalan kakinya dipercepat.
Ketika sampai pertigaan dekat Terab, dimana di pertigaan tersebut biasa ada tukang nasi goreng langganan si Ucok, tiba-tiba gerimis tersebut berubah menjadi hujan lebat. Karena di pikir si Ucok dari pertigaan tersebut sampai ke Terab hanya berjarak 100-150 meter maka si Ucok berlari sekencang-kencangnya, supaya tidak terlalu basah kuyup dan supaya barang bawaannya tidak basah.

Berlarilah si Ucok sekencang babi hutan (ada yang tau ga kecepatan lari babi hutan?), sesampainya di Terab si Ucok ngos-ngosan setengah mati dan memaki-maki dirinya sendiri, " hah..hah..hah... kunyuk...ngehe.. baru lari segitu aja udah kaya orang abis tuuuut". (tuuuut berarti ada sensor terhadap suatu kata)
Sambil menenangkan diri, lalu dia bertanya kepada dirinya sendiri, "kenapa ya, gua udah ga kuat lagi lari?"
Lalu dia memeriksa tasnya apakah basah atau tidak, dia menemukan rokoknya tidak basah lalu dia tersenyum dan bergumam "Jangan kasih ampun paru-paru". Dinyalakan rokoknya, pada hisapan pertama dia terbatuk .. uhuk..huk.. seperti tersedak, seolah Ada yang mengingatkan supaya kasih ampun paru-paru karena dia baru beristirahat sebentar.
Dari kejadian tersebut si Ucok sadar untuk memberi ampun paru-parunya dan mulai membuat rencana untuk jogging teratur, tetapi kebiasaan merokoknya tetap berjalan. (Ucok.. Ucok parah loe Cok)

....tamat....



catatan:
cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kemiripan nama orang atau tempat itu hanya kebetulan belaka.
*Baru sadar.. ternyata si penulis, menulis sambil menahan perih di matanya karena sambil ngerokok.. hehe..

Thursday, January 12, 2006

Banda Aceh dimana sih ?

Menonton acara televisi di salah satu televisi swasta indonesia bersama keponakan, melihat rekaman kejadian Tsunami Desember lalu (video amatir) dalam rangka memperingati satu tahun Tsunami .

Selama pemutaran rekaman video amatir tersebut secara spontan saya bercerita-cerita layaknya seorang PM Toh :)

“Di pasar tersebut pada saat kejadian tsunami banyak yang meninggal”,
“Wah.. dulu Tulang sempat jalan-jalan lho ke mesjid Baiturahman”
bla..bla..bla..

Tiba-tiba pertanyaan polos datang dari keponakan saya (perempuan berumur 20 tahun)
“Banda Aceh dimana sih?”

Seperti ada yang menjahit mulut, ketika keponakan menanyakan hal tersebut.
Entah ada pemikiran dari mana, keponakan saya mengambil Atlas Indonesia, dan membolak-balikan halaman pada Atlas tersebut, sepertinya mencari halaman Propinsi NAD hmmmm….

Setelah menemukan halaman tersebut, ada kalimat pertanyaan menarik lagi yang di ucapkan oleh sang keponakan.
“Gila… lagian Banda Aceh koq, ada di ujung pulau Sumatera?”
lalu, saya menambahkan “tau kan sekarang, kenapa di Banda Aceh paling banyak yang meninggal”.
Kemudian, entah apa yang dipikirkan dia terus memandangi Peta Propinsi NAD tersebut selama beberapa menit.

Mungkin anda berpikiran bahwa keponakan saya itu ceplas-ceplos dan cuek.
Pendapat anda ada betulnya juga, karena tidak bisa dipungkiri begitulah potret anak muda sekarang (sok tua hehe..).

hahaha.. baru sadar ternyata dalam kehidupan sehari-hari, membahas suatu hal yang tampak seperti ilmu sains yang membosankan, lebih menarik jika didiskusikan seperti membahas gosip-gosip para selebritis.


sumber :
blog.geografiana.com
image:
wikipeida