Monday, March 27, 2006

Pray for Forgotten Soul

God.. i'm sorry if i always to get moan
I knew You are here, You always give a choice.

please wake me up from my isolated body,
please keep my soul into You,
please don't give me a reason to separate me from You,
please don't give me a reason to get me always to groan,
i want to breath to find Your way,
don't let me to be Your lost sheep.

If You choose my soul that ripe enough to forfeit,
please cure my wounded soul if i do that,
please make me strong to fight the breakdown,
please weak me to face the goodness.


Wednesday, March 22, 2006

Lebih Baik Sakit Hati Daripada Sakit Gigi

wadow.. sakit gigi... arggghh...
nyut...nyut..nyut..nyut..senut...senut....senut
arrghh.. ampun ...

udah nulis itu doank ah.. sakit banget...
arrgh... b*ngs*t... tolong.. hik..hiks..


*ada yang punya tips dan trik yang tokcer, untuk mengatasi sakit gigi?

Thursday, March 02, 2006

Kolektor Batu

Seorang kolektor batu berharga, bernama Indol mempunyai 32 anak dari 6 Isteri. Usia perkawinan Indol sudah mencapai 61 tahun.

Dia juga seorang juragan kaya yang memiliki banyak pembantu dan pengawal setia, tetapi tidak semua pembantu dan pengawalnya setia.

Koleksi batunya sekitar 18.000, tapi baru sekitar 6.000 batu yang diberi nama.

Pada masa mudanya dia terkenal sekali karena kharisma dan wataknya. Dia pandai sekali memilih isteri dan mengoleksi batu untuk diwariskan ke anak-anaknya. Dia juga pandai menjaga isterinya dan menjaga koleksi batu-batunya.

Si Indol ...

Dengan usianya yang sudah tua dan batu-batu tersebut tersebar di antara anak-anaknya. Kini dia sudah tidak sanggup lagi mengidentifikasi dan memberi nama batu-batu berharganya.

Kini dia sudah tua, ada pepatah “lelaki dilihat dari keluarga yang dimilikinya”

Pepatah itu sekarang berlaku untuk dia, orang tidak melihat si Indol di masa lalu, tetapi melihat si Indol yang tercermin dari keluarganya sekarang.

Selain itu juga Indol tidak mampu lagi mengawasi 32 anak-anak nya. Zaman semakin maju, ada pepatah “jangan mau tergilas oleh jaman”. Anak-anak Indol, udah pada gede-gede. Ingin hidup bebas, ingin mandiri.

Ada beberapa anak Indol menggadaikan batu warisan ayahnya, ada beberapa yang meminjamkannya.

Anak-anak Indol tergiur oleh uang yang ditawarkan keluarga Inggol, Amdol, Ausdol, Itadol, dan keluarga kaya lainnya.

Keluarga-keluarga kaya tersebut, tahu bahwa sebagian besar anak Indol “mata duitan”.

Sang ayah bagaikan macan ompong menegur anaknya – masuk kuping kiri, keluar kuping kanan.

Para pembantu dan pengawal setia sang ayah hanya bisa mengelus dada, karena mereka punya andil dalam menjaga batu-batu koleksi ayahnya.

Indol riwayatmu kini, anak-anaknya mulai melupakan dia, anak-anaknya dalam proses “pencarian jatidiri”. Persaudaraan diantara anak-anak Indol sudah mulai kabur. Persaudaraan itu telah retak.




Catatan: cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kemiripan nama orang atau tempat, itu hanya kebetulan belaka dan cerita ini tidak merepresentasikan seorang kolektor batu yang sebenarnya